Untaian Harapan di Penghujung Ramadhan

Untaian Harapan di Penghujung Ramadhan

Ramadhan akan segera berkahir, bulan yang dinanti pun lambat laun akan segera pergi. Bulan suci setahun sekali, entah kita telah memanfaatkannya dengan hakiki atau sekedar haha hihi kesana kemari. Untaian doa dan harapan begitu deras mengalir kepada Sang Illahi. Menjadi pribadi yang lebih baik, sebuah harapan bagi semua insan yang meng-imani.

Ya Allah.. berikanlah kebaikan bagi kami dalam beragama yang merupakan kunci kehormatan bagi kami. Karuniakan kebaikan di dunia sebagai tempat kami menjalani hidup, dan kebaikan di akhirat sebagai tempat kami kembali. Jadikan kehidupan kami senantiasa lebih baik dan kematian sebagai kebebasan kami dari segala keburukan, serta jadikan hari-hari terbaik kami saat bertemu dengan-Mu.

Ya Allah.. sungguh kami memohon kepada-Mu permintaan terbaik, doa terbaik, kesuksesan terbaik, ilmu terbaik, amal terbaik, pahala terbaik, kehidupan terbaik, dan kematian terbaik. Berikanlah kekuatan pada kami, beratkanlah timbangan kebajikan kami, realisasikan keimanan kami, tinggikan derajat kami, terima shalat kami, dan ampuni dosa-dosa kami.

Ya Allah.. anugerahkanlah untuk kami rasa takut kepada Mu, yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepada-Mu, dan anugerahkan ketaatan kepada-Mu yang akan mengantarkan kami ke surga-Mu. Anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringannya bagi kami segala musibah di dunia ini.

Ya Allah.. jadikanlah balasan atas orang-orang yang menganiaya kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang memusuhi kami. Janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami. Jangan Engkau jadikan berkuasa atas kami, orang-orang yang tidak mengasihi kami.

Ya Allah.. jangan pernah Engkau tinggalkan dosa, melainkan Engkau ampuni. Tidak ada kegalauan kecuali Engkau berikan jalan keluar, tidak ada satu kebutuhan duni dan akhirat kecuali Engkau penuhi, wahai Tuhan semesta alam.

Ya Allah.. semoga Engkau menerima segala amal ibadah kami di bulan suci ini. Berikanlah semangat dan konsistensi diri dalam upaya kami untuk terus berbenah menjadi pribadi yang lebih baik di mata Engkau ya Allah. Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpah curah kepada Nabi Muhammad, keluarga, serta para sahabat terpilih.

Khusus untuk diri ini sendiri. Mohon maaf jika ada yang masih suka terdzalimi, belum dipenuhi janji, belum tertunaikan hak nya, masih sangat kurang dalam stabilitas emosi, dan menjadi teman, sahabat, maupun pemimpin bagi diri sendiri yang masih amat sangat banyak kekurangan dalam menjaga dan melayani.


SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1438 H.

MAAF LAHIR DAN BATIN.

Nusa Purnawan Putra, dr.

Keridhoan Pasangan dan Prioritas dalam Berbakti

Ridho

Salah satu perempuan yang paling berbahagia itu adalah mereka yang mendapat ridho dari pasangannya kelak. Karena keridhoan itulah yang akan mengantarkan seorang isteri nantinya menuju surga. Sebaik apapun pasanganmu atau calon suamimu, tak akan terlalu berarti jika dia tidak memberikan ridhonya kepadamu, tak akan berarti jika dia tidak menjadi pintu surga bagi kamu. Dan karena itu, kamu harus berbakti sepenuh hati. Bukan karena kedudukan seorang suami lebih tinggi daripada isteri, atau isteri harus menuruti apa kata suami. Bukan karena itu.

Tapi karena Allah sudah berbaik hati kepada perempuan, dengan memberikan peran mulia dalam keluarga, yang jika peran itu dijalankan dengan baik, akan langsung mengantarkannya kepada surga; sebagai seorang anak, seorang ibu, juga seorang isteri.

Dalam keluarga inti, laki-laki hanya diberikan kesempatan untuk berbakti kepada orangtua sebagai seorang anak. Perempuan diberikan kesempatan kedua untuk berbakti kepada suaminya. Untuk orang yang mengerti, bakti itu tidak akan dianggapnya sebagai beban. Tapi sebagai pintu untuk menuju surga. Dan sekarang, peran utama bagi seorang perempuan yang telah menjadi seorang isteri, adalah berbakti kepada suami, bukan lagi yang utama kepada orangtua. Berbeda dengan laki-laki, walaupun sudah menikah, bakti utamanya tetap kepada orangtua, tidak berpindah kepada isteri.


Kutipan inspirasi dari Nazrul Anwar

Cegah Kelainan Bawaan dari Sebelum dan Selama Kehamilan

Hari kelainan bawaan sedunia

Satu dari 33 bayi di dunia menderita kelainan bawaan (anomali kongenital). Di Indonesia diperkirakan 260.090 bayi baru lahir dengan kelainan bawaan setiap tahunnya, dan 4.700 meninggal hingga usia 28 hari. Hal ini penting untuk diperhatikan, terutama bagi ibu-ibu usia reproduktif ataupun para calon ibu.

Kelainan bawaan terberat yang ada diantaranya kelainan jantung (heart defects), kelainan pembentukan saraf pusat (neural tube defects) dan sindroma Down. Kementerian Kesehatan RI telah melakukan surveilans sentinel bersama 13 RS terpilih di 9 provinsi sejak September 2014. Terdapat 15 jenis kelainan bawaan yang disurveilans dengan kriteria antara lain kelainan bawaan yang dapat dicegah, mudah dideteksi dan dapat dikoreksi (preventable, detecteble dan correctable) dan merupakan masalah kesehatan masyarakat. Dari data tersebut, terdapat 231 bayi mengalami kelainan bawaan. Sebagian besar lahir dengan 1 jenis kelainan bawaan (87%) dan ditemukan pula bayi lahir dengan > 1 jenis kelainan bawaan (13%). Kelainan bawaan yang paling banyak ditemukan adalah dari kelompok sistem muskulo skeletal (talipes equinovarus) 22,3%, sistem saraf (anenchepali, spina bifida dan meningochele) 22%, celah bibir dan langit-langit 18,5% dan omphalocele 12,5%.

Penyebab kelainan bawaan tersebut antara lain masalah genetik, pengaruh lingkungan, infeksi, dan yang terpenting adalah status gizi ibu. Hal ini merupakan poin penting untuk tetap menerapkan pola hidup sehat sebelum dan selama masa kehamilan untuk mencegah bayi lahir dengan cacat bawaan tersebut. Secara ringkas, kelainan bawaan dapat dicegah dengan:

  • Mencegah paparan bahan kimia pertanian dan industri di lingkungan dan tempat kerja serta beberapa obat-obatan yang dikonsumsi selama kehamilan.
  • Imunisasi rubella pada anak perempuan dan wanita.
  • Konseling pranikah, pelayanan antenatal yang memadai, dan skrining bayi baru lahir.
  • Sebelum dan selama kehamilan untuk menghindari alkohol, tembakau dan kokain serta asap rokok,. Selain itu, penting juga untuk memenuhi asupan gizi yang adekuat (kecukupan protein, kalori, asam folat, iodium, dan zat besi), dan mengendalikan penyakit diabetes jika memang sebelumnya memiliki riwayat.

Pada tanggal 3 Maret ini yang mana diperingati juga sebagai Hari Kelainan Bawaan Sedunia atau World Birth Defects Day, semoga dapat menjadi bahan renungan dan persiapan bagi para ibu maupun calon ibu untuk lebih mempersiapkan kehamilan secara sehat baik itu dari sebelum masa kehamilan serta selama masa kehamilan itu sendiri.

Jangan Hanya Menjadi Buih di Lautan

Buih di Lautan

Jangan sampai kita hanya bagai buih di lautan. Banyak, namun mudah terombang-ambing. Banyak, namun tak memiliki arti.

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui, karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” –[QS. 17:36]

Sebagian ada yang hanya ikut-ikutan, tanpa mengetahui story behind nya. Sebagian lagi sudah tahu, namun karna alasan gengsi ya mau tak mau. Sungguh sedih saat kita melestarikan sesuatu yang sama sekali tidak memiliki ikatan histiory, emosional, dan religius sedikitpun dengan ajaran kita.

Semoga kita diberikan kemampuan untuk meninggikan kalimat Allah di medan perjuangan yang semakin hari semakin kompleks ini, sesuai dengan profesi masing-masing.

Resiko dalam Amanah Keprofesian

Risiko dalam Amanah Keprofesian

Proses kematian banyak didahului dengan kesakitan, paling dekat kaitannya dengan dunia kesehatan, kedokteran. Maka menjadi logis ketika akhirnya harapan akan hidup digantungkan kepada para pejuang kesehatan, terutama dokter sebagai pemegang tanggung jawab dan pengambil keputusan terbesar.

Namun perlu diingat terutama bagi masyarakat awam. Sesuai dengan aturan Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) dalam hubungan pelaksanaan pengobatan, kewajiban dokter adalah usaha untuk mengobati (inspanningverbintenis) bukan kewajiban untuk menyembuhkan (resultaatsverbintenis). Apalagi bertindak sebagai Tuhan. Astaghfirullahal’adzim.

Menjadi kenyataan bahwa memang belum semua masyarakat mengerti akan hal di atas. Profesi dokter yang semakin penuh risiko di masa sekarang ini nampaknya tak jarang menjadi alasan terakhir bagi pelayanan yang kurang maksimal, walaupun sebenarnya kita telah melaksanakan sesuai standar dan prosedur keprofesian. Untuk itulah di sini kita dituntut untuk menjadi dokter yang terus totalitas dalam mengasah kualitas.

Kesulitan yang senantiasa membersamai ini seolah menjadi tantangan yang perlu dilewati untuk kemudian kita nikmati ganjaran nya sesuai dengan kadar lelah yang sudah kita kerjakan. Alasan yang membuatku bertahan di jalan ini hingga kini adalah karena disini aku temukan banyak jalan untuk berbagi dan menebar manfaat bagi orang lain. Semangat berbagi ini adalah bukti keluhuran jiwa. Konteksnya bukan lagi memenuhi kewajiban, melainkan di atas itu, berbagi lebih mencerminkan rasa syukur, semangat berbakti, dan semangat untuk tidak menjadi mercusuar di tengah kondisi kurang beruntung yang dialami orang lain.

Jadi beruntunglah setiap kita yang berada di jalan ini, menjalankan peran yang tak mudah, tapi memiliki peluang kebermaknaan yang begitu besar. Semangat rekan sejawat, di mana pun kalian berada. Semoga niat baik yang dilakukan dalam pekerjaan kita sebagai dokter ini,  senantiasa selalu dalam lindungan Allah swt, Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

 

26. (Lebih) Berani Berhijrah

26

Berhijrah itu bukan perkara tentang kemampuan. Tapi tentang kemauan. Bukan tentang keterpaksaan. Tapi tentang kesediaan, keikhlasan untuk berubah menjadi lebih baik.

Ya, benar. Setiap orang memang selalu diberi kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Tinggal bagaimana sikap kita pada kesempatan itu. Mengabaikan atau memanfaatkan.

Di titik awal usia 26 tahun ini, semestinya harus semakin sadar bahwa ada hak umat dalam diri setiap kita. Kewajiban kita adalah menunaikannya, karna sesungguhnya keselamatan seseorang itu tergantung dari seberapa besar usahanya bermanfaat bagi orang lain.

Menjadi refleksi terhadap diri sendiri. Sudah sejauh mana kita masih hanya memikirkan diri sendiri? Dan sudah sejauh mana diri ini menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain? Karna sejatinya, melakukan hijrah ke arah kebaikan bukan merupakan pilihan, tapi suatu keharusan. Semoga selalu dimudahkan dan diridhoi oleh Allah swt.

Seperti yang selalu menjadi bahan perenungan diri ini tiap tahun nya, mohon maaf jika ada yang masih suka terdzalimi, belum tertunaikan hak nya, belum dipenuhi janji, masih sangat kurang dalam stabilitas emosi, dan menjadi teman, sahabat, maupun pemimpin bagi diri sendiri yang masih banyak kekurangan dalam menjaga dan melayani. Saya menyadari akan kekurangan saya dan tentunya menjadi pribadi yang lebih baik lagi merupakan sebuah keharusan. Karna sejatinya, seburuk apapun masa lalu seseorang bukanlah jaminan menjadi dia di masa yang akan datang.

Dan perihal jodoh. Lagi-lagi, hanya sedang berusaha untuk ikhlas dan percaya bahwa tulang rusuk tak akan tertukar. Harapan saya hanyalah bukan dengan yang sempurna, cukup dengan orang yang ‘tepat’. Ia yang taat pada Allah dan taat pada suaminya, ia yang selalu bersyukur dan merasa beruntung bersanding dengan berbagai kekurangan yang juga melekat dalam diri ini, untuk kemudian menjadi partner yang membangun, saling melengkapi. Aamiin Ya Rabbal’alamiin..


Ilmu terbaik adalah yang diamalkan. Waktu terbaik adalah yang dioptimalkan. Cinta terbaik adalah yang dihalalkan. Harta terbaik adalah yang disedekahkan. Dan manusia terbaik adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Pantaskah Kita untuk Masih Banyak Mengeluh?

Kita sekarang apapun profesinya di manapun ditempatkan, tentu merupakan sebuah perjalanan untuk melaksanakan amanah yang mesti dipertanggungjawabkan. Bahwa ini sebenarnya hanyalah amanah kecil yang harus ditunaikan, tanpa banyak mengeluh.

Jika kalian percaya. Coba kau lihat nabi Muhammad saw. Dengan amanah yang begitu sangat besar dan mulia, untuk umat. Pantaskah kita masih mengeluh dengan amanah sekecil ini? Coba kau lihat di luar sana. Banyak orang yang masih dalam keterbatasan dan tidak seberuntung kita saat ini. Kesehatan yang selalu ada. Rezeki yang cukup. Ataupun keluarga yang selalu menyemangati. Pantaskah kita untuk masih banyak mengeluh? Coba kau lihat nikmat Allah pada dirimu. Hei, jantungmu masih berdetak bukan? Bukankah itu atas izin Allah? Masih pantaskah kita untuk banyak mengeluh?

Dalam menjalani amanah ini, tentu pasti akan ada halangan ataupun masalah yang membersamai. Apapun masalah dan halangan yang sedang kita hadapi, jika kita percaya bahwa Allah bersama kita, maka tidak ada yang tak mungkin.

Kita wajib untuk percaya, wajib mengimani bahwa kesulitan itu datang bersama kemudahan. Itu janji Allah. Kita juga wajib mengimani bahwa Allah memberikan beban kepada suatu kaum tidak diluar batas kemampuannya. Sekali lagi, itu janji Allah. Iman akan melahirkan keajaiban. Lalu keajaiban akan menguatkan iman. Semua terasa lebih indah karena terjadi dalam kejutan.

Nuh belum tahu bahwa banjir benar-benar akan tumpah ketika di gunung ia membuat kapal dan ditertawai. Ibrahim pun belum tahu bahwa akan terganti dengan domba ketika pisau itu nyaris merampas buah hatinya. Musa juga belum tahu bahwa lautan akan terbelah saat ia diperintah untuk memukulkan tongkat ke laut. Yang mereka tahu adalah ketika mereka melaksanakan perintah Rabbnya, maka Allah bersamanya. Dan itu sudah cukup baginya.

“Sesungguhnya pertolongan itu datang dari Allah pada hamba sesuai kadar ujiannya dan kesabaran itu diberikan sesuai dengan musibahnya.” -HR. Baihaqi

Bahwa dimana kita sekarang, dan bagaimana kita sekarang, adalah amanah yang harus ditunaikan. Tanpa banyak mengeluh.


Sebuah Renungan dalam Perjalanan Hidup

Perjalanan memang kerapkali mengubah kehidupan seseorang. Perjalanan menawarkan tempat dan suasana baru beserta paket pembelajaran yang ada di dalamnya. Berbagai proses yang melibatkan berbagai tempat dan tujuan dari awal hingga akhir tahun ini pun datang silih berganti seiiring dengan berjalannya sebuah pendewasaan diri.

Jika semua tempat menyajikan pembelajaran, maka seharusnya semakin banyak perjalanan yang dilakukan seseorang, semakin banyak juga pelajaran hidup yang didapatkan. Syaratnya, ada hati yang menyertai perjalanan tersebut. Hati yang ikhlas, yang merupakan muara dari segala rasa yang ada. Karena jika hanya fisik saja yang melakukan perjalanan, sementara hatinya tertinggal di tempat lain, sebuah perjalanan tidak akan terlalu berarti.

Hal yang perlu menjadi renungan kita lebih dalam lagi adalah, dalam perjalanan kehidupan ini, memang kita dituntut untuk harus saling mengerti satu sama lain. Tapi lebih penting lagi untuk mengerti hak dan kewajiban masing-masing. Kita memang punya hak untuk marah, tapi kita juga punya kewajiban untuk memaafkan. Kita punya hak untuk menuntut, tapi kita juga punya kewajiban untuk memberi. Kita punya hak untuk diperlakukan baik, tapi kita juga punya kewajiban untuk memperbaiki diri. Memang benar adanya, yang lebih baik adalah mendahulukan kewajiban kita terhadap orang lain daripada menuntut hak kita dari orang lain.

Semoga semakin menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Menjadi pribadi, yang selalu didekatkan terhadap apa yang Allah ridhoi. Menjadi pribadi, yang selalu dijaga untuk dijauhkan dari apa yang Allah murkai.

Aamiin Ya Rabbal’alamiin..


Bagai Sang Surya yang Menyinari Dunia

“Berilah sebaik-baiknya penjagaan pada wanita mulia yang aku cintai ini. Seorang wanita yang kupanggil Mama. Bahwa sungguh tak ada yg lebih berarti dari ridhanya atas segala aktivitas yang aku lakukan. Karna tanpa ridhanya, mustahil kuperoleh ridhaMu, ya Allah..”

Sesungguhnya, apa yang ada di sekitar kita adalah sebuah pembelajaran hidup. Daun yang jatuh dari rantingnya, tertiup angin hingga akhirnya menuakan diri di dalam tanah merefleksikan bahwa tak ada sesuatu yang abadi. Air sungai yang mengalir dari hulu ke hilir, selanjutnya menjadi uap di hamparan lautan hingga nanti turunnya hujan kembali ke hulu di pegunungan merefleksikan bahwa kita harus menjalani segala sesuatunya dalam suatu siklus. Suara emas seorang penyanyi sukses layaknya Afgansyahreza merefleksikan bahwa nasib lah yang membedakan saya dengannya. Maaf, untuk kalimat terakhir jangan menjadi beban pikiran kalian yang membacanya.

Begitupula tentang proses kehidupan yang ada. Mama. Sebuah kata yang sudah hampir 23 tahun saya ucapkan sejak pertama kali bisa memanggilnya. Sosok pahlawan kehidupan, yang berjuang keras mempertahankan hasil konsepsi selama hampir 39 minggu. Sebuah perjalanan, sebuah perjuangan, sebuah proses bagi setiap kaum hawa yang nantinya pasti akan dialami bagi yang ingin memiliki keturunan.



Tentu, pada Hari Ibu ini menjadi refleksi diri sendiri terhadap pengorbanan apa yang telah Ibu atau Mama kita perjuangkan hingga menjadi apa dan siapa kita sekarang.

Maafkan, Ma. Jika diri ini masih belum bisa menjadi anak yang membanggakan bagimu. Maafkan, Ma. Jika hingga hari ini, aku masih belum bisa menjadi anak yang se-shalih yang kau harapkan, belum bisa menjadi anak berbakti dan berakhlak mulia seperti yang engkau impikan. Karna aku sangat mengerti, tak akan ada yang paling menyenangkan hatimu dan menentramkan jiwamu selain melihat anakmu tumbuh dalam ketaatan kepada Allah swt. Maafkan atas segala kesalahan diri ini yang tak pernah berhenti mengecewakanmu, walau aku tau engkau selalu memaafkan atas segala kekhilafanku.

Terimakasih atas segala yang telah engkau berikan. Kasih mu sungguh sepanjang masa, yang hanya kau beri, namun tak pernah kau mengharapkan tuk kembali, bagai sang surya yang menyinari dunia.


Mengimani Rezeki dari Sang Maha Pemberi Rezeki

Masihkah kalian percaya bahwa rezeki sangat diatur oleh Sang Maha Pemberi Rezeki? Terkadang, kita lupa bahwa manusia hanyalah merupakan tempat di mana segala usaha dan doa dapat dimaksimalkan.

Seringkali kita terlena atas rezeki yang telah kita dapat. Seringkali juga kita terlupa sehingga menghalalkan berbagai cara, atau bahkan hingga dapat meregangkan silaturahmi yang telah terjaga. Rezeki dalam hal ini tentu saja dapat berupa ukuran finasial, kedudukan, relasi, ataupun yang lain.

Secara pribadi, memang menurut saya agak terlalu sensitif jika kita dalam bersosial terlalu frontal untuk membicarakan masalah rezeki, khususnya penghasilan. Mungkin ada di sekitar kita, teman yang bekerja berangkat pagi pulang pagi, ke sana kemari menjemput rezeki, tapi yang di dapat ya hanya kisaran segitu saja. Sebaliknya, mungkin ada pula yang hanya bekerja dari pagi sampai petang, yang didapat sudah sangat jauh lebih dari cukup. Mengapa? Karena memang itulah konsep rezeki yang semestinya kita imani. Bahwa semua jatah kita masing-masing sudah ditetapkan oleh Sang Maha Pemberi Rezeki.

Perlu diyakini, bahwa yang memberi rezeki itu bukan manusia, bukan atasan, atau bukan relasi kerja yang mempunyai koneksi kuat sekalipun. Yang memberi rezeki itu merupakan Yang Maha Kaya, tak lain adalah Allah swt.

Terkadang, kodrat sebagai manusia yang tak pernah puas atas apa yang telah didapatkan, membuat kita lupa apa yang semestinya harus dilakukan. Demi mengejar rezeki semata, apapun dilakukan, meski harus mengorbankan nilai kebenaran dan kepatutan yang ada. Dalam batin, terkadang kita berkata, “Ah, kalau gue gak ngelakuin gini, gimana bisa gue dapet apa yang jadi target gue selama ini.” Dan sebagainya apapun alasannya. Wajar memang kita menginginkan ini itu yang bersifat duniawi, namun alangkah eloknya jika kita tetap menjunjung tinggi nilai kepatutan dan kebenaran dalam menggapainya, sehingga Allah akan lebih ridha terhadap rezeki yang kita dapatkan.

Janganlah takut menjadi miskin dalam melakukan kebenaran untuk memaksimalkan usaha mencari rezeki, sekalipun itu pahit. Karena Tuhan tidak akan membiarkan hamba-Nya yang berusaha menjalankan kebaikan, dengan meninggalkan cara-cara keburukan. Tuhan tentu akan memberikan jalan yang terbaik bagi kita. Carilah rezeki dengan tidak menjauh dari Sang Maha Pemberi Rezeki.

Layaknya jodoh, kita harus percaya bahwa yang namanya rezeki itu tidak akan tertukar. Tugas kita hanyalah mengusahakannya dengan kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas. Lakukan ketiganya secara bersamaan.  Semua harus berjalan selaras. Dengan kita bekerja keras, maka akan mendatangkan rezeki. Dengan kerja cerdas, akan melipatgandakan rezeki. Dan dengan kerja ikhlas, akan membuat rezeki kita berkah dan berlimpah.

“… Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” -QS. Al-Thalaq : 2-3


Sebagian merupakan kutipan dalam buku ON, karya Jamil Azzaini.


Fa innama 'al usri yusra

Design a site like this with WordPress.com
Get started